<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2679566542448854593</id><updated>2011-04-22T13:34:18.411+09:00</updated><title type='text'>REFLEKSI</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mainkrefleksi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2679566542448854593/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mainkrefleksi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Bang Maink</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/SKKG22vv_BI/AAAAAAAAACg/8BTnme6cWHs/s1600-R/snapshot2.png'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2679566542448854593.post-4578451542853073245</id><published>2007-04-01T10:59:00.000+09:00</published><updated>2008-12-13T14:29:45.410+09:00</updated><title type='text'>Radikalisasi Pemikiran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/Rg8Smh5zIoI/AAAAAAAAAA8/sbf_cwj3yT4/s1600-h/radical.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/Rg8Smh5zIoI/AAAAAAAAAA8/sbf_cwj3yT4/s200/radical.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5048274160450740866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2679566542448854593-4578451542853073245?l=mainkrefleksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mainkrefleksi.blogspot.com/feeds/4578451542853073245/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2679566542448854593&amp;postID=4578451542853073245' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2679566542448854593/posts/default/4578451542853073245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2679566542448854593/posts/default/4578451542853073245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mainkrefleksi.blogspot.com/2007/03/radikalisasi-pemikiran.html' title='Radikalisasi Pemikiran'/><author><name>Bang Maink</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/SKKG22vv_BI/AAAAAAAAACg/8BTnme6cWHs/s1600-R/snapshot2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/Rg8Smh5zIoI/AAAAAAAAAA8/sbf_cwj3yT4/s72-c/radical.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2679566542448854593.post-737722148463038529</id><published>2006-12-09T08:30:00.000+09:00</published><updated>2008-12-13T14:29:45.609+09:00</updated><title type='text'>Pluralitas dan Pluralisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/RXpLj_WyTxI/AAAAAAAAAAo/uLn0SiROHew/s1600-h/pluralism-2.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/RXpLj_WyTxI/AAAAAAAAAAo/uLn0SiROHew/s200/pluralism-2.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5006397017450237714" /&gt;&lt;/a&gt;Dua kata di atas adalah kata yang mewakili dua konsep berbeda meski memiliki entitas yang hampir sama. Justru karena kesamaan basic entity itulah, seringkali perdebatan, khususnya tentang Pluralisme, di banyak kesempatan oleh banyak pihak (pakar atau pun orang awam) menjadi kehilangan "arah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralitas adalah realitas. Tanpa kita pikirkan dan sadari sekali pun, ia telah menjelma dan menyatakan banyak hal kepada kita, manusia. Sebab alam-semesta, beserta segenap elemennya yang plural, telah menjalani kodratnya sebagai eksistensi plural bagi segenap entitas di dalamnya. Karena itu, ia menjadi bagian dari kodrat kita sebagai manusia, dengan atau tanpa kesadaran sekali pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pluralisme adalah konstruksi pemikiran manusia dalam memahami dan memaknai aneka pluralitas di kehidupannya. Pendeknya, ia adalah ideologi. Karena perbedaan persfektif (berdasarkan ilmu, pengalaman, etc.) yang inheren pada setiap diri manusia, maka adalah keniscayaan bahwa ia, pluraisme, akan eksis dengan keragaman bentuk/konstruksi dalam pemahaman/pemikiran masing-masing orang yang berbeda. Jika demikian, bagaimana kah cara terbaik, obyektif dan bijak, bagi setiap orang untuk bersikap sebagai seorang pluralis berdasarkan hakikat pluralitas dan konsep pluralisme yang kita pahami ? Ini lah sulitnya. Sebab seringkali, seseorang menemukan paradoks yang sulit disadari dalam bersikap : antara menjadi seorang pluralis, sekaligus tidak terjebak nihilisme pluralitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabats,&lt;br /&gt;Anda bingung dengan cara berpikir Saya seperti ini ? Jika YA, saya tunggu komentar Sahabats sekalian bagi cara pandang Saya tentang 2-hal ini. Semoga, Saya akan mendapatkan banyak pencerahan bagi pemahaman Saya ke depan yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bravo..!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2679566542448854593-737722148463038529?l=mainkrefleksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mainkrefleksi.blogspot.com/feeds/737722148463038529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2679566542448854593&amp;postID=737722148463038529' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2679566542448854593/posts/default/737722148463038529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2679566542448854593/posts/default/737722148463038529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mainkrefleksi.blogspot.com/2006/12/pluralitas-dan-pluralisme.html' title='Pluralitas dan Pluralisme'/><author><name>Bang Maink</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/SKKG22vv_BI/AAAAAAAAACg/8BTnme6cWHs/s1600-R/snapshot2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/RXpLj_WyTxI/AAAAAAAAAAo/uLn0SiROHew/s72-c/pluralism-2.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2679566542448854593.post-3496351738739693772</id><published>2006-12-09T06:50:00.000+09:00</published><updated>2008-12-13T14:29:45.768+09:00</updated><title type='text'>Mengumpat Bangsa Sendiri, Bijak kah ?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/RXpAvfWyTwI/AAAAAAAAAAc/fvHBPqOYy-U/s1600-h/Bendera-2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/RXpAvfWyTwI/AAAAAAAAAAc/fvHBPqOYy-U/s200/Bendera-2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5006385120390827778" /&gt;&lt;/a&gt;Tidak jarang Saya mendengar langsung Sahabat2 anak negeri, mengumpat bangsanya sendiri. Sekilas, umpatan itu bisa jadi terdengar wajar saja. Bayangkan saja, prilaku para pembesar negeri kita (politisi, selebritis, dan public figure jenis lainnya), kerapkali muncul dalam bentuk yang sangat sulit kita pahami. Kotor, buas, egois, etc.; kadang malah melewati batas-batas kewajaran manusiawi. Tidak hanya pada problem-problem klasik seperti korupsi (oleh hampir seluruh lini birokrasi dan pejabat publik lainnya) dan/atau hingar-bingar dunia "perempuan", tapi juga mereka smakin larut dengan prilaku yang kian bejat dan terus menerobos nilai-nilai kemanusiaan yang bermartabat dan suci. Jujur saja, kadang Saya pun merasa ingin ikut karena merasa mereka pantas untuk kita hujat. Tapi, benarkah sikap slalu hanya (mampu) menghujat bangsa sendiri, merupakan sikap layak dan baik bagi Indonesia Masa-Depan ? Saya yakin, tidak setiap kita, pecinta negeri tercinta Indonesia, serta merta siap memberikan jawaban jujur, lugas dan bijak atas pertanyaan itu. Namun, jika kita tidak juga mau/mampu memberikan/mencarikan jawabannya, tidak kah kita khawatir akan seperti apa Indonesia Masa-Depan yang akan kita wariskan bagi anak-cucu kita kelak ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabats,&lt;br /&gt;Saya ingin mengajak kita semua merenung akan hal ini. Sebab hanya dengan menghujat, Saya (secara pribadi) yakin bahwa : tidak akan terjadi perubahan/perbaikan signifikan bagi bangsa dan negeri kita tercinta. Hemat saya, setiap kita, dengan "bergandeng-tangan", harus bekerja keras dan optimistik memperbaiki Indonesia. Karena jika tidak, mungkin Indonesia kita akan butuh 100-tahun lagi atau bahkan lebih dari itu, untuk mewujudkan cita-cita kemanusiaan yang bermartabat dan beradab bagi kehidupan setiap anak-negeri di zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So,&lt;br /&gt;Ayo kita mulai, bersama, bergandeng-tangan. Bagi mereka yang masih terus asyik dengan hanya menghujat bangsanya sendiri, ya biarkan saja. Toh sejarah yang akan mencatat : Siapa yang telah memanusiakan dirinya dan apa yang ia lakukan untuk memanusiakan orang lain di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Berkarya...!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2679566542448854593-3496351738739693772?l=mainkrefleksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mainkrefleksi.blogspot.com/feeds/3496351738739693772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2679566542448854593&amp;postID=3496351738739693772' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2679566542448854593/posts/default/3496351738739693772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2679566542448854593/posts/default/3496351738739693772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mainkrefleksi.blogspot.com/2006/12/mengumpat-bangsa-sendiri-bijak-kah.html' title='Mengumpat Bangsa Sendiri, Bijak kah ?'/><author><name>Bang Maink</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/SKKG22vv_BI/AAAAAAAAACg/8BTnme6cWHs/s1600-R/snapshot2.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/RXpAvfWyTwI/AAAAAAAAAAc/fvHBPqOYy-U/s72-c/Bendera-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2679566542448854593.post-2835875426772433057</id><published>2006-11-12T03:22:00.000+09:00</published><updated>2006-11-12T11:35:38.421+09:00</updated><title type='text'>Obyektifikasi Gagasan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger2/1601/327095525201276/1600/Mata-2.0.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger2/1601/327095525201276/200/Mata-2.0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam ruang keragaman, harus tumbuh kesadaran, bahwa setiap gagasan yang lahir dari segenap entitas di dalamnya, harus melalui proses obyektifikasi secara memadai. Ini adalah sebuah cara elegan untuk meniscayakan bahwa gagasan itu mendapatkan haknya untuk lahir dan berkembang di dalamnya. Tentu saja, gagasan itu juga harus memenuhi karakteristik dasar sebagai produk yang konstruktif bagi masa depan, dengan tidak mengebiri hak improvisasinya. Ruang keragaman itu, dalam fokus Saya kali ini adalah : Indonesia kita tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada tataran implementasi, tetap saja obyektifikasi masih menyisakan sebuah pertanyaan konseptual mendasar, yaitu : Apa batasan dan bagaimana konstruksinya, sehingga eksistensinya benar-benar menjadi signifikan bagi proses humanisasi perdaban masa depan kita, dalam ruang yang beragam ini ? Saya mengajak Anda, merenungkan bersama masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...bersambung...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2679566542448854593-2835875426772433057?l=mainkrefleksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mainkrefleksi.blogspot.com/feeds/2835875426772433057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2679566542448854593&amp;postID=2835875426772433057' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2679566542448854593/posts/default/2835875426772433057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2679566542448854593/posts/default/2835875426772433057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mainkrefleksi.blogspot.com/2006/11/obyektivikasi-di-ruang-publik-nilai-ide.html' title='Obyektifikasi Gagasan'/><author><name>Bang Maink</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/SKKG22vv_BI/AAAAAAAAACg/8BTnme6cWHs/s1600-R/snapshot2.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2679566542448854593.post-6529986492956168498</id><published>2006-11-02T01:00:00.000+09:00</published><updated>2007-04-01T15:37:33.808+09:00</updated><title type='text'>Jangan Biarkan Hanya Jadi Pesona</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger2/1601/327095525201276/1600/Winner-Loser.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger2/1601/327095525201276/200/Winner-Loser.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika seseorang berhasil (diakui) menjadi pribadi yang baik dan mengagumkan di komunitas sosialnya, seharusnya ia tak boleh merasa puas dan "berhenti" pada titik itu. Selayaknya proses berkehidupan seorang manusia, ia harus terus setia menapaki jalan panjang meneguhkan eksistensi diri, di tengah marak dan dinamisnya kehidupan ini. Sebab, berhenti pada pesona dan citra diri, berarti kegagalan menebar kebaikan diri bagi lahirnya kebaikan-kebaikan berikutnya yang lebih signifikan dan menyeluruh, dan akan menjadi energi-positif bagi kehidupan masyarakat pada sketsa waktu ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dengan kepribadian yang mengagumkan, seharusnya tak boleh memenggal prosesi menyejarah dirinya bagi kehidupan masyarakatnya. Itu terjadi, jika pada titik pesona diri, ia berhenti dan mendirikan monumen kekaguman orang banyak atas integritas kepribadiannya semata. Padahal, semegah apapun (monumen) kekaguman itu, tak pernah serta-merta menjelma menjadi elemen signifikan bagi prosesi perbaikan kualitas kehidupan bermasyarakat. Kekaguman hanya mampu menjadi potensi awal bagi seseorang untuk membangun visi dan komitmen ke arah kontribusi yang lebih signifikan bagi kehidupannya bermasyarakat, melalui upaya penetrasi segenap produk kebaikan diri ke dalam dinamika sosial-masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, seseorang dengan realitas kekaguman publik yang megah, seharusnyalah mengayun langkah lebih optimis dan signifikan ke depan, bagi lahirnya kebaikan-kebaikan lanjutan yang bukan lagi monopoli dirinya. Apa dan bagaimana kah upaya itu harus dilakukan ? Mari kita pikirkan bersama !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2679566542448854593-6529986492956168498?l=mainkrefleksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mainkrefleksi.blogspot.com/feeds/6529986492956168498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2679566542448854593&amp;postID=6529986492956168498' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2679566542448854593/posts/default/6529986492956168498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2679566542448854593/posts/default/6529986492956168498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mainkrefleksi.blogspot.com/2006/10/pencerahan-enlightenment.html' title='Jangan Biarkan Hanya Jadi Pesona'/><author><name>Bang Maink</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/SKKG22vv_BI/AAAAAAAAACg/8BTnme6cWHs/s1600-R/snapshot2.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2679566542448854593.post-1658017146168989653</id><published>2006-10-29T05:25:00.000+09:00</published><updated>2006-10-29T06:19:40.486+09:00</updated><title type='text'>Dreams &amp; Hopes</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger2/1601/327095525201276/1600/bendera-1.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger2/1601/327095525201276/320/bendera-1.gif" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Adakah sesuatu milik kita, yang sangat berharga untuk disumbangsihkan bagi Indonesia Masa-Depan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku punya : Mimpi dan Harapan (Dreams and Hopes). Indonesia Masa-Depan adalah sebuah rumah &amp; taman bermain yang (mungkin) tengah kita impikan saat ini. Di saat yang sama, Ia adalah harapan anak-cuku kita untuk kehidupan mendatang. Jika saja kita enggan bermimpi, akan kah harapan dapat menjelma kemudian ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin memberi. Aku ingin mewujudkan mimpiku dan menjalinnya erat dengan harapan mereka, anak-cucu kita. Namun aku juga sadar : padaku, hanya tersedia sedikit energi dan waktu untuk itu. Tapi tak mengapa. Setidaknya, aku tengah berupaya menjadi bagian dalam cita-cita membangun Indonesia Masa-Depan, bagi anak-cucu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BM,&lt;br /&gt;===&lt;br /&gt;"...sore di ujung Ramadhan..."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2679566542448854593-1658017146168989653?l=mainkrefleksi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mainkrefleksi.blogspot.com/feeds/1658017146168989653/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2679566542448854593&amp;postID=1658017146168989653' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2679566542448854593/posts/default/1658017146168989653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2679566542448854593/posts/default/1658017146168989653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mainkrefleksi.blogspot.com/2006/10/dreams-hopes.html' title='Dreams &amp; Hopes'/><author><name>Bang Maink</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4wEvrR_FLmU/SKKG22vv_BI/AAAAAAAAACg/8BTnme6cWHs/s1600-R/snapshot2.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
